Selasa, 23 Desember 2008

Tata Cara Merawat Jenazah

PENDAHULUAN


Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan buku ini yang berjudul : “PANDUAN MERAWAT JENAZAH”.
Penulisan buku ini terinspirasi setelah Penulis melihat fakta di lapangan bahwa sekarang ini sangat sedikit sekali orang yang mempunyai profesi atau keahlian tentang tata cara merawat jenazah terutama dalam hal memandikan mayat.
Selanjutnya secara kebetulan Penulis bertemu dengan ZAINURMAN, S.H. yang mempunyai ide dan pemikiran yang sama untuk dapat mewujudkan suatu buku yang berisikan tentang panduan dan tata cara merawat jenazah.
Dalam buku kecil dan sederhana dapat diketahui tentang tata cara merawat jenazah mulai dari menghadapi seseorang yang sedang sakit keras hingga menguburkan mayat.
Semoga Allah SWT dapat menerima amal Penulis dan amal Zainurman, S.H. sebagai amal yang tulus ikhlas dalam mengharap ridho dan rahmat-Nya. Semoga dijadikan amal yang yang akan berguna bagi penulis dunia dan akhirat. Selanjutnya kepada para pembaca , penulis mengharapkan do’a dan ma’af jika terdapat kekeliruan, kekurangan dan kesalahan, karena penulis adalah seorang hamba yang serba kekurangan.sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.


MENGURUS JENAZAH

A. Menghadapi Seseorang Yang Sakit Keras

Apabila kita menghadapi seseorang yang sakit keras dan diperkirakan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Hendaknya si sakit tersebut dihadapkan ke kiblat
2. Hendaknya ia dituntun dengan mengucapkan kalimat syahadat (tauhid)
3. Dibacakan surat yassin

Bagi keluarga atau ahli waris jika ada keluarganya yang sedang sakit keras hendaknya menuntun kalimat syahadat tauhid , yaitu



“ Laailaaha Illalaah”.
Lebih lengkapnya dituntun dengan dua kalimat syahadat, yaitu :
:



“Asyahadu an laa ilaha illallahu. Waasayhadu anna Muhammadan Rasulullah””.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa :


Artinya : Hendaknya semua menuntun (mengajari) kepada orang-orang yang akan meninggal dunia dengan bacaan : (Laailaaha Illallaah)
(H.R. MUSLIM)

Dalam menuntun kamlimat syahadat cukup sekali saja tidak perlu berulang-ulang kali, karena dikhawatirkan baru pada sampai lafadz wafat, jika demikian maka wafatnya termasuk suul khotimah.
Oleh karena itu usahakan orang yang akan wafat supaya bisa menghembuskan nafas terakhir dengan bacaan Lssilsshs Illallaah maka cukup kita tuntun sekali saja. Selanjutnya disambung dengan lafadz “ALLAH” sampai akhir hayatnya (wafat). Jika wafatnya bisa membaca kalimat syahadat berarti ia wafat dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH (Baik akhir hayatnya).
Hal ini sesuai dengsn sabda Nabi Muhammad SAW :






Artinya : Barang siapa ucapannya (ketika wafat) menyebut : LAAILAAHA ILLALLAAH maka ia masuk surga. (H.R. MUSLIM).


B. Menghadapi Seseorang yang baru Meninggal Dunia

Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal dunia, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :

1. Mengikat kepala mayit
2. Meletakkan tangan mayit di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melaksanakan sholat)
3. Mengikat dan menyatukan persendian lutut
4. Menyatukan kedua ibu jari kaki
5. Menghadapkan mayit ke arah kiblat.


C. TENTANG CARA MEMANDIKAN JENAZAH

I. Pendahuluan

Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :
a. Mengikat kepala mayit
b. Meletakkkan tangannya di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melakukan sholat
c. Mengikat dan menyatukan persendian lutut
d. Menyatukan kedua ibu jari kaki
e. Menghadapkan mayit kea rah kiblat.

II. Cara memandikan mayat

Setelah mayit di letakkan pada tempat yang disediakan, maka kita tutupi seluruh tubuhnya dengan kain yang agak tipis sehingga bila disiram dengan air dapat membasahi seluruh anggota tubuhnya. Maka mulailah kita memandikannya dengan tata cara sebagai berikut :
a. Mula-mula kita sediakaan air sebanyak mungkin, sedikit air jeruk (jeruk purut), air bedara, air kapur barus dan sabun.Yang pertama kali kita lakukan ialah menyiram seluruh tubuhnya dengan air bersih mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya, dengan niat memandikan mayat sebagai berikut :

1. Jika mayat laki-laki dewasa,lafadz niatnya adalah :



(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kofaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

2. Jika mayat perempuan dewaasa,lafadz niatnya adalah:




(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

3. Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :




(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

4. Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :





(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -
Kanak perempuan ini, fardhu kifayah
karena Allah Ta’ala.

b. Kemudian kita ambil air yang bercampur dengan jeruk (jeruk purut),maka kita sirami semua persendiannya untuk melemahkan anggota yang kaku/tegang, agar mudah membersihkan anggota tubuh mayat. Selanjutnya kita bersihkan seluruh anggota dengan sabun,dan kita buang segala kotoran-kotoran yang masih ada pada mayat itu,sampai sebersih-bersihnya,dan sunnat membasuh anggota wudhunya terlebih dahulu dengan mendahulukan yang kanan dari yang kiri.

c. Kemudian dari pada itu, maka kita dudukkan mayat itu dengan keadaan condong ke belakang, kemudian kita tekan-tekan (diramas) perutnya perlahan-lahan dan tangan kiri kita yang sudah dibalut dengan kain (atau dibuat berbentuk sarung tangan) mencuci kubul dan dubulnya dengan niat istinja’ bagi mayat.Lafadz niatnya adalah sebagai berikut :




(Nawaitul istinjaa-i minal mayyit fardhan a’layya lillahi ta’ala).
Artinya : Sengaja aku menyucikan daripada mayit ini fardhu atasku karena Allah Ta’ala.

d. Kemudian dari pada itu, diambil wudhu’ bagi mayit,lafadz niatnya adalah :



(Nawaitul wudhu-a lihaadzal mayyit lillahi Ta’ala). Artinya : Sengaja aku mengambil wudhu’ bagi mayit ini
karena Allah ta’ala.

Setelah itu baru disiram dengan air bedara dan dengan air kapur barus untuk menghilangkan bau dan supaya menjadi harum dan segar.

e. Kemudian daripada itu, disiram air berkali-kali (3 kali atau 5 kali atau lebih) dengan jumlah bilangan ganjil yang terakhir dicampur dengan air kapur barus. Namun hal yang lazim dikerjakan adalah 9 kali menyirami air yang disebut dengan cuci sembilan (mandi sembilan) sebagaimana yang disebut dalam Kitab Arab Melayu “KIFAYATUL GHULUM” karangan Syekh Ismail Minang Kabau,yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Mula-mula mayat dimiringkan kekiri,kalau menyiram air kesebelah kanannya 3 kali sambil membaca do’a :




(Ghufraanaka yaa Allah rabbana wailaikal mashiir)

2, Kemudian dimiringkan ke sebelah kanan, lalu menyiramkan air ke sebelah kirinya 3 kali sambil membaca do’a :




(Ghufraanaka yaa rahman rabbana wailaikal mashiir)

3, Kemudian membetulkan mayat itu (tertelentang) lalu menyiram air ke sebahagian mukanya mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya 3 kali seperti di atas,sambil membaca do’a :





(Ghufraanaka yaa Allah yaa rahim rabbana wailaikal mashiir).

4. Setelah itu kita angkat kepala mayat tersebut sedikit menghadap kea rah kiblat, lalu dibacakan syahadat bagi mayit. Yaitu :







(Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahulmulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir)


4. Tanbihun

1. Mengambil wudhu’ bagi mayat itu adadua cara, yaitu :
a. Seperti mengambil wudhu’ bagi orang yang masih hidup saja.
b. Pendapat lain seperti mandi sembilan dengan mengucurkan (menyiramkan) air tiga kali sebagaimana cara diatas.
2. Jika mayat laki-laki (umumnya anak-anak) yang tidak bisa dibuka kulubnya (kulit yang menutup ujung zakarnya), untuk mengharuskan sholat baginya.hendaklah ditayamumkan. Lafadz niat tayammum adalah :





(Nawaitul tayammuma lihaadzal mayyit il-istibaahatis sholaati ‘alaihi fardhan lillahi ta’ala)
Artinya : Sengaja aku memtayamumkan bagi mayit ini, karena mengharuskan sembahyang atasnya karena Allah ta’ala.

3. Tayammum itu dikerjakan sesudah seleasai wudhunya.


E. Cara Mengkafani Jenazah

I. PENDAHULUAN
Sesudah mayit di mandikan, maka cawatnya dipasang (ukuran cawat adalah 1 meter dari pemotongan sisa baju).

2. . UKURAN PEMOTONGAN KAIN KAFAN
Panjang kain kafan ± 15,5 meter, dengan potongan kain sebagai berikut :
a. Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meter
b. Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil 2/3 dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meter
c. 1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meter
d. 1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 meter
e. 1,5 meter untuk ikat pinggang (1/3 dari lebar). Total 1,5 meter

3. CARA MENGKAFANI JENAZAH

Mula-mula kita siapkan segala sesuatunya yang diper-lukan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain). Kemudian sobek / koyak bagian tepi kain kafan tersebut, setelah itu potong kain kafan tersebut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana telah disebut pada huruf B di atas). Hal tersebut hendaklah disesuaikan dengan kondisi badan / fisik si mayat.
Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya serta sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan pada pertama kali menyobek kain tersebut dengan membaca :






(Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.

Adapun cara meletakkan kain kafan itu ialah dibujurkan ke arah kiblat (letak kaki mayat ke arah qiblat) jika tempat mengizinkan. Susunannya adalah sebagai berikut :
a. Letakkan tali kain kafan sebanyak 5 helai
b. Kain kafan pertama dibentangkan
c. Ikat pinggang mayat dibentangkan
d. Kain kafan kedua dibentangkan
e. Selendang / sal dipasang
f. Sorban dibentangkan di atas sal / selendang
g. Baju dibentangkan
h. Anak baju dibentangkan di atas baju
i. Kain sarung dibentangkan di atas baju
j. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarung
k. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapas
Hendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiri


Untuk Diketahui

Sebenarnya mengkafani mayat itu sama saja, yaitu dengan maksud membungkus kain itu ke seluruh tubuh si mayat sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang terbuka. Bagi mayat laki-laki diutamakan lima lapis kain selain gamis (baju dan sorban) dan bagi mayat perempuan lima lapis kain selain telekung / kerudung dan celana cawatnya . namun demikian atas ketiadaan, cukup sekedar menutupi seluruh anggota tubuhnya saja.


F. CARA MENSHOLATKAN JENAZAH

1. Sebelum sholat jenazah berlangsung hendaknya imam mengatur barisan (saf) makmum, Makmum berdiri di belakang imam bersaf-saf. Lebih banyak jemaahnya lebih utama. Apabila jemaahnya sedikit usahakan buat tiga saf.
2. Jika jenazahnya itu laki-laki, maka imam berdiri di arah kepala jenazah. Lihat gambar berikut ini






3. Jika jenazahnya itu perempuan, maka imam berdiri di arah perut jenazah. Lihat gambar berikut ini :









4. Niat, yakni berniat mendirikan shalat jenazah karena Allah
Adapun lafadz niat shalat jenazah laki-laki adalah sebagai berikut :






(Ushollii ‘Alaa Haadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)
Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.
Jika jenazahnya itu perempuan , lafadz niatnya adalah :






(Ushollii ‘Alaa Hadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)
Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.

Setelah mengucapkan lafadz niat sholat jenazah tersebut, kemudian membaca takbir pertama yaitu :
“Allahu Akbar”


Setelah mengucapkan takbir membaca surah Al-Fatihah,



















Bismillaahir Rahmanir Rahim

Alhamdu lillahi Robbil “alamin. Arrahmanir Rohim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Idninas shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh dhallien. Amin

Artinya :
Dengan nama Allah yang maha Pengasih lahi maha penyayang. Segala puji-pujian itu tertentu bagi Allah. Tuhan yang memiliki sekalian alam. Yang pengasih lagi penyayang. Raja yang memiliki hari pembalasan (hari qiamat). Kepada Engkaulah (han) kami menyembah dan kepada Engkaulah (Tuhan) kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (Benar) yaitu jalan yang telah Engkau beri nikmat atas diri mereka itu (para Nabi dan para Rasul) bukan jalan yang dimurkai atas mereka (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang telah sesat. Perkenankanlah permohonan kami ini.

Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan dengan bertakbir (takbir kedua) dan membaca sholawat Nabi Muhammad SAW, yaitu :
(Allaahumma Sholli
‘alaa Muhammad
Wa’alaa aali Muhammad)

Atau boleh membaca :
(Allaahumma Sholli
Alla Sayyidinaa
Muhammad Wa
’alaa aali Sayyidinaa
Muhammad)
Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada yang mulia Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.


Kemudian membaca takbir ketiga dan dilanjutkan dengan membaca do’a untuk mayat, yaitu :

(Allahummaghfirla-
huu Warhamhuu
Waafihii Wa’fuanhu
Waakrim Nuzulahuu
Wawassi’ Madkholahuu
Waj’alil Jannata
Matswahuu)



Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat padanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dan jadikanlah surga tempat kembalinya.

Kemudian membaca takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a :

(Allahumma Laa
Tahrimnaa Ajrohuu
Walaa Taftinnaa
Ba’dahuu Wagfir)


Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari pada ganjarannya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.

Sehabis mengucapkan do’a, kemudian mengucapkan “SALAM” :



(Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh)
Artinya : Selamat sejahtera atas kamu sekalian, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan.


PENJELASAN :
a. Jika mayatnya itu laki-laki, memakai domirhu ( ),
misalnya “Allaahummagfirlahuu”

b. Jika mayatnya itu perempuan domirnya “Hu” diganti dengan “ha” ( ), misalnya :
“Allaahummagfirlahaa”

c. Jika mayatnya itu 2 orang, maka domirnya memakai “Huma” ( ), misalnya :
“Allaahummagfir Lahumaa”

d. Jika mayatnya itu banyak, maka domirnya memakai ”Hum” ( ) misalnya :
“Allahumagfirlahum “

G. MENGANTARKAN JENAZAH KE KUBUR

Sesudah mayat dimandikan, dikafani dan isholati, selanjutnya jenazah dibawa ke kubur. Sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman, hendaklah diadakan sekedar upacara keberangkatan jenazah dengan secara singkat. Pemberi acara itu bisa dilakukan oleh pemuka agama (Kyai) atau orang yang dianggap mampu untuk memberikan ceramahnya. Dalam upacara yang isinya antara lain :
1. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin atas ikut serta duka citanya.
2. Memintakan ma’af kepada para hadirin dan handaitaulan atas segala kesalahan dan kekhilafannya yang mungkin diperbuat oleh si mayat semasa hidupnya.
3. Memberitahukan kepada para hadirin dan handaitaulan yang mungkin si jenazah mempunyai hubungan hutang piutang atau pinjam meminjam dan sebagainya, maka hak dan kewajiban si mayat beralih kepada orang-orang yang menjadi ahli warisnya.
4. Mau’idhoh Hasanah yang ada hubungannya dengan kematian seseorang (Tazkirul Mauut).

Pada umumnya pelaksanaan upacara pelepasan jenazah ini dilakukan di muka rumah duka sewaktu hendak diberangkatkan ke masjid untuk mensholati jenazah.
Setelah upacara selesai kemudian hendaknya dipikul pada empat penjuru berjalan membawa jenazah dengan segera.
Maksud segera diberangkatkan menurut sabda Nabi Muhammad SAW :










Artinya : Dari Abi Huroiroh, r.a. Rasulullah S.A.W. : “Hendaklah kamu segera bawa jenazah itu, karena jika ia orang shaleh, maka kamu melekaskannya kepada kebaikan, tetapi jika ia bukan orang shalelh maka supaya kejahatannya itu lekas terbuang dari tanggungannya. (H.R. Jama’ah)

Jika seseorang sedang melihat jenazah lewat hendaklah ia memberi penghormatan dengan cara berdiri sambil mengucap-kan do’a :


(Subhaanal Hayyil Ladzii Laa Yamuutu)
Artinya : Maha suci zat yang maha hidup dan tidak akan mati.

Dalam penghormatan terhadap jenazah tersebut tidak pan-dang jenazah tersebut muslim atau non muslim, karena hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW yang menyebutkan :







Artinya : dari Jabir, r.a. katanya Telah lewat di depan kami jenazah, lalu Nabi Muhammad SAW berdiri, kamipun berdiri pula, lantas kami katakan kepada beliau bahwa jenazah itu, jenazah Yahudi, Beliau bersabda : Apabila kamu melihat jenazah maka hendaklah kamu berdiri. (H.R. Bukhari)



H. CARA MENGUBURKAN JENAZAH

Mengubur mayat hukumnya adalah fardu kifayah bagi orang yang masih hidup, mayat sebelum dimakamkan maka perlu diperhatikan tata cara menguburnya, yaitu antara lain :

1. Cara Membuat Liang Kubur
- jenazah sebelum diantar ke kubur, liang kubur harus sudah siap
- Ukuran liang kubur :
a. Dalamnya kadar orang berdiri tegak dan dilebihi satu
hasta (± 50 s/d 75 centi meter)
b. Lebarnya kira-kira 1 meter
c. Panjangnya : sepanjang jenazah dan ditambah 0,5 meter.

2. Bentuk Liang Kubur
Liang kubur dengan ukuran sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dan nhendaknya di tengahnya diberi semacam parit seluas dan sepanjang mayat serta diberi dampingan papan atau lainnya pada kedua sampingnya serta diberi semacam atap terbuat dari papan atau bambu. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terbau dan tidak mudah terbongkar oleh binatang buas. Selain itu juga untuk menjaga kehormatan mayat dan kesehatan orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut.

3. Cara Mengubur Jenazah
a. Ada tiga (3) orang (umumnya kerabat dekat jenazah)
turun terlebih dahulu ke dalam liang kubur untuk
menerima mayat :
- Seorang menerima bagian kepala mayat
- Seorang menerima bagian perut mayat
- Seorang lagi menerima bagian kaki mayat
b. Ada beberapa orang di atas mengangkat mayat dengan pelan-pelan dari tempat pengangkutan mayat (kerendo) kemudian diterimakan kepada tiga orang yang sudah siap menerima (berada dalam liang kubur).
c. Sewaktu akan memasukkan jenazah ke dalam liang kubur hendaknya yang memasukkan jenazah itu membaca do’a :




“Bismillaahi Wa’alaa Milati Rosuulillahi”
Artinya : Denganmenyebut ama Allah dan atas tetapnya agama Rosulullah
d. Posisi Mayat Dalam Kubur
1. Setelah jenazah/mayat berada dalam liang kubur hendaknya mayat dimiringkan menghadap ke kiblat.
2. Tali-tali yang ada terutama pada bagian kepala dan kaki supaya dilepas dengan maksud agar wajah dan kaki, sebab dua anggota tubuh tersebut adalah bagian dari anggota sujud dalam melaksanakan sholat.
3. Dibagian kepala, punggung dan belakang paha hendaknya diberi penyangga atau gelu yaitu terbuat dari tanah yang dibulatkan (ganjal istilah bahasa jawa), agar posisi mayat dalam keadaan tetap miring. Lazimnya disiapkan sebanyak minimal 7 (tujuh) buah gelu. Sewaktu pembuatan gelu seyogyanya membaca surat Al-Qodr.
Bagian-bagian peletakan glu adalah :
(a) Tumit
(b) Pelipatan lutut
(c) Pinggang
(d) Punggung
(e) Leher
(f) Tengkuk
(g) Di belakang kepala.

4. Pipi atau hidung mayat yang kanan harus menem-pel pada tanah, oleh karena itu wajah mayat hendaknya terbuka. Lihat gambar di bawah ini







5. Setelah posisi mayat sudah tertib dan sebelum liang kubur ditutup dengan papan atau bambu atau dengan benda lainnya, mayat agar diadzani dan diiqomatkan.
6. Setelah diadzani dan diiqomatkan.selanjutnya liang kubur dipasang kayu dako sebanyak 3 buah dan diletakkan di atasnya papan dako.sebagai penutup, kemudian baru ditimbuni dengan tanah secara perlahan-lahan..
7. Timbunan tanah itu agar diratakan dan diberi nisan atau tanda, dalam memberi nisan dapat menggunakan dengan batu atau kayu atau lainnya.
8. Setelah selesai semuanya, seyogyanya si mayat dibacakan talqin oleh pemuka agama.

Sabda Nabi Muhammad SAW :














Artinya : Dari Usman, Nabi Muhammad SAW apabila selesai dari menguburkan mayat, beliau selalu berdiri lalu bersabda : Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah olehmu agar ia diberi ketetapan iman karena sekara ia sedang ditanyai.
(H.R. Abu Daud dan Hakim).
TALQIN

Terhadap mayat yang baru dikubur, harap dibacakan Talqin (Al-Adzkar). Talqin yang berlaku di kalangan Ahlus Sunnah adalah sebagai berikut :





















































Saudara-saudara yang berbahagia
Allah Subhaanahuu Wata’aalaa telah berfirman di dalam Al-Qur.an yang artinya :
Semua mahluk yang mempunyai roh akan merasakan mati, dan manusia setelah mati kelak (Hari Kiamat) akan memerima balasan setimpal dengan amal perbuatannya ketika di dunia, maka barang siapa berbuat buruk akan dibalas masuk neraka dan barang siapa berbuat baik akan dibalas masuk surga.




















































Saudara mayit .......... pegang teguhlah janjimu yaitu ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah.
Ketahuilah bahwa surga itu benar-benar ada, nerakapun juga ada dan sesungguhnya mati itu benar-benar terjadi dan alam barzah itupun benar-benar ada sebagaimana yang sedang engkau alami.

Dan demikian pula pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir pun demikian juga, yang lain-lain seperti khisab, mizan bangkit dari kubur, telaga, pengadilan akhirat, syafaat, sirotol mustaqim, kumpulnya manusia di padang makshsyar, dan kesempatan bagi orang-orang mukmin itu menyaksikan keagungan Allah adalah benar-benar nyata dan ada.

































Saudara mayit ............ mulai hari ini kamu bermukim di alam barzah ini, ini semua merupakan realitanya firman Allah.

Dari bumi, kami ciptakan kamu, dan di dalamnya kami mengembalikan kamu, dan dari padanya kami mengeluar-kan kamu sekali lagi.
Sebentar lagi kamu akan kedatangan malaikat Munkar dan Nakir perlu akan menanyakan kamu.

Pertanyaannya demikian :
Hai manusia siapa Tuhan mu ?, siapa Nabi mu ?, apa Kitab Suci mu, apa agama mu ? dimana Kiblat mu ?, dan siapa saudara mu ?

Maka jawablah :
Allah itu Tuhan ku, Nabi Muhammad S.A.W. Nabi ku, Al-Qur’an Kitab suci ku, Islam agama ku, Ka’bah Kiblat ku, dan seluruh orang Islam baik laki-laki maupun perempuan saudara ku.













































MEMBERI MAKAN AHLI MAYAT DAN SEBALIKNYA

Memberi makanan kepada keluarga yang baru saja mendapat musibah karena kematian anggota keluarganya, dalam ajaran agama Islam sungguh dianjurkan (Sunnah muakad). Sabda Nabi Muhammad S.A.W. :











Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far, katanya : Ketika datang kabar meninggalnya Ja’far mati terbunuh, Rasulullah S.A.W. bersabda : “Buatlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang menderita kesusahan”.
(H.R. Lima ahli hadits terkecuali An-Nasal))

Namun pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya dan dianggap lazim, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam, semua teman, keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat yang terdekat beramai-ramai berkumpul di rumah ahli mayat (rumah duka) untuk makan makanan dan ahli mayat terpaksa menyediakan makanan yang bermacam-macam, sehingga oleh ahlul musibah kadang-kadang mencari hutangan kesana kemari untuk memberi jamuan atau hidangan kepada mereka yang berkunjung.
Dalam hal demikian itu oleh ajaran Islam melarangnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W. :












Artinya : Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali katanya : “Berkumpul-kumpul pada ahli mayat serta membuat makan-makanan sesudah mayat dikuburkan, kami anggap sebahagian meratap”. (H.R. Ahmad & Ibnu Majah)

Hadits tersebut memberi pengertian bahwa memberi makan-makanan kepada para pengunjung oleh keluarga yang baru mendapat musibah hukumnya sama dengan meratap, sedangkan meratap setelah ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluaraganya hukumnya adalah haram. Dengan demikian bagi orang-orang yang berakal sehat hendaklah dijauhi dan dihindarkan sungguh-sungguh, agar kita terlepas dari hukum haram tersebut.


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar